Lama sudah di rencanakan akan pergi ke desa ini, akhirnya kesampaian juga 20/03/2016. 100 kilometer dari Pusat Kota Palembang, kita sudah sampai di Desa Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam.
Pertengahan jalan kami berkunjung ke Pulau Tebing, hanya ingin memenuhi rasa penasaran, ada apa di perkampungan di tengah2 danau. Setiba disana ada ibu yang sedang menyiangi (membersihkan) ikan gabus.
Keseharian penduduk sebagai nelayan: memancing dan menambak ikan, Ikan gabus, toman dll.
Pada kesempatan itu kami melihat seorang ibu membuat ikan Pedo, ikan gabus di guntingi sirip dan buntunya, kemudian sisiknya di bersihkan sampai bersih, Ikan dibelah dua namun tidak putus isi perut di buang dan langsung di masukan kedalam baskom berisikan air larutan garam. kemudian didiamkan selama beberapa hari.
| Pulau Tebing |
Puas kami melihat ibu tersebut membuat ikan pedo kami lanjutkan perjalanan ke Pulau Layang tempat kerbau sawah berada.
Sampai di Pulau layang matahari masi terang benderang, waktu masi menunjukkan pukul 2 siang. Tujuan kami kesni adalah melihat kerbau rawa dan setalah ngobrol dengan Bapak ketua kelompok ternak, kami mendapat info waktu sorelah baru pengembala menggiring kerbau-kerbau mereka kembali ke kandang. Berbaur dengan masyarakat sekitarlah yang kami lakukan, Sampai kami bertemu dengan Bapak yang membuat Gulo Puan/Gula Susu.
Dulunya di zaman kesultanan, gulo puan menjadi
kegemaran para bangsawan Palembang. Setiap pagi si Bapak membeli susu kerbau kemudian diolah menjadi gulo puan, untuk pemasarannya setiap minggunya di Bapak akan ke Palembang untuk menjualnya ke para langganan. Biasanya tiap Jumat di Masjid Agung Palembang kita dapat menemukan makanan yang keberadaannya saat ini terbilang langka. Awalnya saya enggan untuk mencicipi makan ini, karan dulu pernah coba dan wanginya semeriwing bau kerbau. Tapi melihat yang lain makan dengn nimatnya, saya ikut mencoba Gulo puan yang baru di buat oleh si Bapak. Masi hangat terasa, wangi karamelnya lebih dominan tercium dan rasanya manis sekali, beda jauh dari apa yang pernah saya coba dulu. untuk perkilonya si Bapak menjual seharga Rp. 60.000,- saja.
Sekitar Pukul 3 sore ketua peternak kerbau/penggembala izin meninggalkan kami untuk menggiring kerbau-kerbau peliharannya, cepat saya bilang ingin ikut dengan menggiring kerbau walaupun matahari masi teriknya. Bersama di Bapak kami menggelilingi danau rawa tersebut, berkat pengalaman sang bapak kurang lebih setengah jam kami berkeliling danau langsung menemukan sekelompok kerbau punya si Bapak, jumlah kerbau yang ada di kelompok Bapak ini kisaran 400 ekor, dan masing2 anggota punya tugas untuk memantau keberadaan kerbau.
Pengalaman baru, bisa melihat langsung kerbau rawa mencari makan, di mulai dari pagi hari mereka di lepas dan sore hari mereka di giring kembali kekandang.
Uniknya Kerbau akan tau dimana letak kandang mereka, walaupun di tarok di kandang lain mereka akan kembali ke asal kandang mereka.
![]() |
kalian bisa tonton perjalan mencari dan menggiring kerbau disini
"Adakalanya kita pergi agar bisa merasakan betapa syahduhnya kembali pulang"
www.menujujauh.com



waaa.. mau juga dit gulopuan-nyo..
ReplyDeletefresh from the oven nian.. wkkwkwk..
gek kito beli di masjid agung yo kak...
DeleteKak aku mau renacana kesana kak . klo naik motor memungkin kan kah trek nya kak? :)
ReplyDeleteMemungkinkan, jalannya sudah aspal bagus kok.
DeleteKapan mau kesini lagi
ReplyDelete