Apa lagi kalau bukan hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2015 yang bertepatan hari Senin. yes, dapet weekend yang panjang.
15-17 Agustus tanggal yang pas buat ngetrip,
Kebetulan Asep, mau pulang kampung ke Jarai, Lahat, ada keluarga yang melangsungkan resepsi pernikaan. Jadilah kami berangkat bertiga, Kak Dita, Dini dan saya menyusul asep yang telah lebih dulu berangkat. Perjalanan dari Pul Bis telaga biru sekitar jam 9, termasuk ngaret dengan jadwal berangkat yang seharusnya jam 8. Perjalanan terasa lama sekali, karna supir harus mencari penumpang, mengisi bangku kosong yang seharusnya ada rombongan yang hendak ke pagaralam tahunya batal.
animo menyambut Hari Kemerdekaan berdatangan dari mahasiswa yang ingin berupacara di atas Gunung Dempo, Bukit Selero, Bukit Besar dan Kantor Pemerintahan di kabupaten/desa di Sumatera Selatan. Seperti isi bis yang kami tumpangi, sebagian mahasiswa dengan tujuan Pagaralam, Gunung Dempo atau Lahat bukit besar. Di desa Gunung Megang tepatnya di Kantor Camat masyarakat merayakan Hut RI. Arak-arakan simbol desa, anak-anak kecil memakai pakaian adat nasional, seru sekali. Tapi tidak bagi kami penumpang yang ada di dalam bis ekonomi yang kami bayar Rp enam puluh ribu dari palembang ke pagaralam. Seperti orang yang diguyur air, kami kepanasan, macet panjang karna acara tsbt.
Sore sudah sampai di kediaman Asep, disambut dengan lagu2 yang dinyanyikan warga sekitar meramaikan acara nanti malam yang akan di gelar di bawah Panggung tenda disebelah rumah asep. Walaupun acara belum mulai banyak warga sekitar sudah siap dengan batik untuk bapak2 dan Ibu2 dengan pakaian terbaiknya duduk di sekitar. Dengan bermodal kemeja dan kamera yang di pinjamkan asep, jadilah saya sebagai fotografer dadakan. Senang sekali bisa ikut dan tahu bagaimana acara resespi pernikahan di daerah. Dari penari yang di sawer ketika pentas, masyarakat yang murah senyum ketika di foto dan bahkan mereka tak jarang bangkit dari bangku untuk memanggil saya meminta untuk di foto. Acara jam 8 malam baru di mulai dan dilanjutkan dengan acara muda mudi. Sayang, saya belum berkesempatan ikut acara tersebut, mata ini udah ga kuat, ngantuk sekali, walaupun musik terdengar kencang di samping rumah tidak menganggu saya untuk tidur dengan nyenyak.
16 Agustus,
Bangun2 disamping sudah ada Yudi, ternyata dia jadi menyusul kami dan sampai jam setengah satu malam. Pagi itu kami jalan2 kesawah tak jauh dari rumah asep, selalu takjub dengan ciptaan ALLAH SWT
Setelah Asep dapet pinjeman motor dan Herdy, sepupu asep yang jadi teman sekaligus penunjuk jalan kami selama disana, kami siap ke Air Terjun Maung (cugup ayek maung)
Perjalanan dari rumah asep ke curug maung memakan waktu satu setengah jam dengan jalanan yang mulus sebagian ada yang berbatu. Untuk mencapai curug maung kita harus melewati jalan yang cukup curam ke bawah. Lumayan kalau yang belum terbiasa.
Sampai dirumah asep sudah sore jam 6 kurang, motor yang di pinjam sudah dikembalikan ke empunya. Trima kasih herdy sudah menemani kami. Malamnya menyusun rencana mau keman lagi kita, pengennya masi explore air terjun tapi terkendala transport. Malam itu kak dita yang mengusul kan kalo besok pagi ikut dia ke lahat trus ke Bukit besar, dan semua langsung setuju. Oke besok ke Bukit Besar!
17 Agustus 2015
Selamat hari Merdeka RI yang ke 70. Merdeka.. Merdeka ..(hatinya udah merdeka belom ? Jleb)
Dari pagaralam (rmh asep) ke lahat (rumah k dita) membutuhkan waktu dua jam diantar oleh Om Udrik alias bapak na asep sampai dengan aman di rumahnya kak dita, bersih2, sarapan. Trimakasih banyak2 buat asep dan keluarga yang telah kami repotin selama disana.
jam 10 kami naek ojek, dari rumah kak dita ke terminal selawi rp 8.000 saja, padahal perjalanan lumayan jauh. dilanjutkan naik mobil pick up yang telah di upgrage menjadi angkutan umum kami meluncur ke desa Tanjung Beringin Kecamatan Merapi Selatan seharga dua puluh ribu rupiah. Jam 12 kami sampai di desa.
Rp. 3000,. per orang uang retribusi untuk memasuki bukit besar ini, dan melapor ke panitia.
tidak berasa lelah selama menuju bukit besar, gimana tidak, pemadangannya menyegarkan mata.

melewati jembatan gantung yang dibawahnya dialiri sungai jernih berbatu.
untuk tracknya, di pangkal kita akan berasa di tengah hutan marga satwa, jalan yang di cor dan di kelilingi pohon karet. Jalan cor ini bisa di jadikan tanda sampai titik mendaki. Nah, bagi yang kehabisan logistis, tenang. di tengah jalan ini banyak gubuk2 kecil yang menjual air, snack sampai pop mie. Anehnya walaupun mereka jual air kemasan, sepertinya air yang di jual tidak asli. bisa dibilang air isi ulang.
Jalan cor yang diawal tidak sampai puncak lo, hanya sampai warung yang ada selamat datang. Selebihnya jalan berbatu dan menanjak. di tiga tebing terakhir itu lumayan curam. dan selebihnya relatif aman. Sampai di puncak jam 3 sore, makan siang dulu.
bernaris ria, jam lima turun bukit, seperti biasa waktu turun membutuhkan waktu singkat, jam 7 kami sudah sampai di rumah panitia yang kami tumpangi untuk menitip tas. Sayangnya air di daerah tstb sedang kering, kami tidak sempat untuk membersihkan diri.
Karna waktu sudah malam, di desa tanjung beringin susah mencari kendaraan. Sempat melakukan tawar menawar yang cukup panjang untuk mengantar kami ke Patung Gajah, keluar dari desa tanjung beringin. tetap tidak mendapatkan harga sepakat. Yudi berinisiatif ke rumah Ibu Kades di belakang rumah panitia. Kak dita dan asep yang bisa bahasa daerahlah yang kami gantungi untuk mencari belah kasihan agar kami dapet tempat membersihkan diri dan transport keluar desa dan usaha mereka Berhasil, kami dapat 3 motor untuk kami orang 5 keluar dari desa. Boti(bonceng tiga) ga masalah buat kami, yang penting bisa keluar dengan mengeluarkan kocek duapuluh lima ribu dengan waktu tiga puluh menit kami sampai di Patung Gajah pukul setengah sembilan, tempat kami menunggu bis telaga bitu yang telah kami pesan sebelumnya.
Menunggu waktu sampai jam 12 malam, kami menunggu di Masjid yang tak jauh dari patung gajah. dan perjalanan berakhir..
Sampai ketemu di tanggal merah selanjutnya
Sumber Foto : Milik Pribadi
Camera man: Asep, Kak dita, Adit dan Yudi.
15-17 Agustus tanggal yang pas buat ngetrip,
Kebetulan Asep, mau pulang kampung ke Jarai, Lahat, ada keluarga yang melangsungkan resepsi pernikaan. Jadilah kami berangkat bertiga, Kak Dita, Dini dan saya menyusul asep yang telah lebih dulu berangkat. Perjalanan dari Pul Bis telaga biru sekitar jam 9, termasuk ngaret dengan jadwal berangkat yang seharusnya jam 8. Perjalanan terasa lama sekali, karna supir harus mencari penumpang, mengisi bangku kosong yang seharusnya ada rombongan yang hendak ke pagaralam tahunya batal.
animo menyambut Hari Kemerdekaan berdatangan dari mahasiswa yang ingin berupacara di atas Gunung Dempo, Bukit Selero, Bukit Besar dan Kantor Pemerintahan di kabupaten/desa di Sumatera Selatan. Seperti isi bis yang kami tumpangi, sebagian mahasiswa dengan tujuan Pagaralam, Gunung Dempo atau Lahat bukit besar. Di desa Gunung Megang tepatnya di Kantor Camat masyarakat merayakan Hut RI. Arak-arakan simbol desa, anak-anak kecil memakai pakaian adat nasional, seru sekali. Tapi tidak bagi kami penumpang yang ada di dalam bis ekonomi yang kami bayar Rp enam puluh ribu dari palembang ke pagaralam. Seperti orang yang diguyur air, kami kepanasan, macet panjang karna acara tsbt.
Sore sudah sampai di kediaman Asep, disambut dengan lagu2 yang dinyanyikan warga sekitar meramaikan acara nanti malam yang akan di gelar di bawah Panggung tenda disebelah rumah asep. Walaupun acara belum mulai banyak warga sekitar sudah siap dengan batik untuk bapak2 dan Ibu2 dengan pakaian terbaiknya duduk di sekitar. Dengan bermodal kemeja dan kamera yang di pinjamkan asep, jadilah saya sebagai fotografer dadakan. Senang sekali bisa ikut dan tahu bagaimana acara resespi pernikahan di daerah. Dari penari yang di sawer ketika pentas, masyarakat yang murah senyum ketika di foto dan bahkan mereka tak jarang bangkit dari bangku untuk memanggil saya meminta untuk di foto. Acara jam 8 malam baru di mulai dan dilanjutkan dengan acara muda mudi. Sayang, saya belum berkesempatan ikut acara tersebut, mata ini udah ga kuat, ngantuk sekali, walaupun musik terdengar kencang di samping rumah tidak menganggu saya untuk tidur dengan nyenyak.
16 Agustus,
Bangun2 disamping sudah ada Yudi, ternyata dia jadi menyusul kami dan sampai jam setengah satu malam. Pagi itu kami jalan2 kesawah tak jauh dari rumah asep, selalu takjub dengan ciptaan ALLAH SWT
| pagi-pagi jalan ke sawah |
![]() |
| berasa jadi petani yang lagi jaga kebun |
![]() | ||
| ala-ala biar greget |
Perjalanan dari rumah asep ke curug maung memakan waktu satu setengah jam dengan jalanan yang mulus sebagian ada yang berbatu. Untuk mencapai curug maung kita harus melewati jalan yang cukup curam ke bawah. Lumayan kalau yang belum terbiasa.
Pemandangan ditengah perjalanan turun ke cugup maung
Sampai dengan mulut yang ngangak, tak henti poto2 di tiap sudut curug maung. Isi perut dengan makan siang bareng, langsung nyebur....
| yudi | adit | dini | k dita | asep | herdi |
Sampai dirumah asep sudah sore jam 6 kurang, motor yang di pinjam sudah dikembalikan ke empunya. Trima kasih herdy sudah menemani kami. Malamnya menyusun rencana mau keman lagi kita, pengennya masi explore air terjun tapi terkendala transport. Malam itu kak dita yang mengusul kan kalo besok pagi ikut dia ke lahat trus ke Bukit besar, dan semua langsung setuju. Oke besok ke Bukit Besar!
17 Agustus 2015
Selamat hari Merdeka RI yang ke 70. Merdeka.. Merdeka ..
Dari pagaralam (rmh asep) ke lahat (rumah k dita) membutuhkan waktu dua jam diantar oleh Om Udrik alias bapak na asep sampai dengan aman di rumahnya kak dita, bersih2, sarapan. Trimakasih banyak2 buat asep dan keluarga yang telah kami repotin selama disana.
jam 10 kami naek ojek, dari rumah kak dita ke terminal selawi rp 8.000 saja, padahal perjalanan lumayan jauh. dilanjutkan naik mobil pick up yang telah di upgrage menjadi angkutan umum kami meluncur ke desa Tanjung Beringin Kecamatan Merapi Selatan seharga dua puluh ribu rupiah. Jam 12 kami sampai di desa.
Rp. 3000,. per orang uang retribusi untuk memasuki bukit besar ini, dan melapor ke panitia.
tidak berasa lelah selama menuju bukit besar, gimana tidak, pemadangannya menyegarkan mata.

melewati jembatan gantung yang dibawahnya dialiri sungai jernih berbatu.
untuk tracknya, di pangkal kita akan berasa di tengah hutan marga satwa, jalan yang di cor dan di kelilingi pohon karet. Jalan cor ini bisa di jadikan tanda sampai titik mendaki. Nah, bagi yang kehabisan logistis, tenang. di tengah jalan ini banyak gubuk2 kecil yang menjual air, snack sampai pop mie. Anehnya walaupun mereka jual air kemasan, sepertinya air yang di jual tidak asli. bisa dibilang air isi ulang.
Jalan cor yang diawal tidak sampai puncak lo, hanya sampai warung yang ada selamat datang. Selebihnya jalan berbatu dan menanjak. di tiga tebing terakhir itu lumayan curam. dan selebihnya relatif aman. Sampai di puncak jam 3 sore, makan siang dulu.
bernaris ria, jam lima turun bukit, seperti biasa waktu turun membutuhkan waktu singkat, jam 7 kami sudah sampai di rumah panitia yang kami tumpangi untuk menitip tas. Sayangnya air di daerah tstb sedang kering, kami tidak sempat untuk membersihkan diri.
Karna waktu sudah malam, di desa tanjung beringin susah mencari kendaraan. Sempat melakukan tawar menawar yang cukup panjang untuk mengantar kami ke Patung Gajah, keluar dari desa tanjung beringin. tetap tidak mendapatkan harga sepakat. Yudi berinisiatif ke rumah Ibu Kades di belakang rumah panitia. Kak dita dan asep yang bisa bahasa daerahlah yang kami gantungi untuk mencari belah kasihan agar kami dapet tempat membersihkan diri dan transport keluar desa dan usaha mereka Berhasil, kami dapat 3 motor untuk kami orang 5 keluar dari desa. Boti
Menunggu waktu sampai jam 12 malam, kami menunggu di Masjid yang tak jauh dari patung gajah. dan perjalanan berakhir..
Sampai ketemu di tanggal merah selanjutnya
Sumber Foto : Milik Pribadi
Camera man: Asep, Kak dita, Adit dan Yudi.



Comments
Post a Comment