Panggilan (kembali) untuk menemui gunung sudah semakin kuat di hati ...
dengan pengalaman sebelumnya bertamu di Puncak Gunung Dempo, Pagaralam, Sumatra Selatan.
Tanggal Merah adalah waktu yang saya nantikan di tiap bulannya untuk liburan.
Tepat di minggu ketiga pada bulan Maret, hari sabtu tanggal 21 (hari raya nyepi) membuat panggilan untuk mengunjungi Gunung semakin menguat..
Planning ini semakin bulat ketika bertemu dengan Yudi (@Yudhii_AG) yang merasakan panggilan yang sama, dan kami sepakat untuk berangkat berdua ke Gunung Dempo (untuk kesekian kalinya) jika memang teman-teman yang lain tidak ada mau ikut. Namun rencana berubah ketika hadir sosok wanita berkrudung yang memiliki jiwa berpetualang juga, teman ketika ke G. Dempo kemarin, sebut saja Una (@unashahab) namun ia belum siap jika bertemu kembali dengan track gunung dempo. Alhasil, yudi mencari (googling) gunung yang terdapat di wilayah Sumatra Selatan ini. Dapatlah Gunung SEMINUNG menjadi destinasi pilihan dengan semua anggota tim setuju untuk pergi kesana.
Bermodal pencarian hasil googling untuk lokasi dan keadaan di gunung, kami bertujuh
Kamis, 19 Maret 2015
kami keluar dari kota Palembang sekitar jam 21.00...
Perjalan menuju Baturaja ditemani guyuran hujan deras membuat keadaan mobil avanza yang kami sewa (Rp 200.000/hari) semakin meriah. alunan music membuat perjalanan kami semakin memorable. Semakin malam, jalanan menjadi milik kami (sepi), perlahan diantara kami meninggalakan kami (sesaat) tidur.
Eki sebagai nahkoda kami terus melanjutkan perjalanan dengan suasan hening didalam mobil, lama kelamaan rasa kantuk dirasakan eki. Pukul 1.30 pagi kami putuskan untuk menepi di Mushola, Baturaja untuk beristirahat. Selepas Sholat Subhu kami lanjutkan perjalanan menuju Muara Dua. tepat pukul 4.22 pagi kami lanjutkan perjalanan.
Jum'at, 20 Maret 2015
Tujuan kami ke Muara Dua, Kota Batu
untuk melapor Juru Kunci (kuncen) Gunung Seminung yang berketinggian 1881 mdpl. Memang belum jodoh, kami tidak bertemu dengan beliau ketika mampir di kediamannya, hanya bertemu dengan anaknya saja. Nama dan nomor Hp dari kami bertujuh dicatat untuk administratif sebelum mendaki. Kapal speed boat untuk kami menyebrang ke kaki gunung sudah siap. Rp. 150.000,- (Pulang-Pergi) kocek yang harus dikeluarkan.
(akhirnya kami menemukan sumber air, selama perjalan kami belum sempat untuk membersihkan diri, apalagi mandi) Sikat gigi, langkah awal kami membersihkan diri sebelum Sholat Jum'at.
Masjidnyapun tak jauh dari sini, dengan mengikuti jalan setapak ke arah kiri pulau kita langsung menemukan, ternyata kami telat.. jammah sudah Sholat, memang tidak tertinggal 1 rakaat. kami langsung mengikuti imam. Lucunya adalah ketika sholat jumat selesai, jamaah masjid langsung meng-qadha sholat asyar. kami yang baru pertama kali sholat disana langsung memasang muka linglung. (masi inget muka2 yg cowok) dan kamipun sigap mengikuti imam, dengan tidak tau maksud sholat yg kedua ini, ada diantara kami berniat sholat jumat lagi dan lainnya. >.<
ternyata masyarakat sekitar mengqadha solat asyar dilantarkan pada sore hari mereka berkebun.
makan siang, packing tas..
Tepat Pukul 13.30 kami READY!!!
sebelumnya, belum ada yang pernah diantara kami mendaki gunung ini, hanya Tekat dan Niat yang membuat kami semangat.
perjalanan dilakukan benar-benar dari kaki gunung (kolam air panas)..
beberapa ruas jalan track di cor untuk sepeda motor berlalu-lalang mengangkut hasil kebun.
tapi untuk kami, jalanan cor membuat tapak kaki semakin berat untuk berjalan.
ditengah perjalanan kami beristirahat dengan pemandangan yang Luarbiasa indahnya.
matahari tepat diatas kepala, meski rindangnya pohon alpukat dan angsana selama 2 jam perjalan tetap membuat baju saya basah kuyup. dan kamipun sampai di Musholah.. tepat pukul 13.30
tempat yang kami kira post 1 sebelum masuk Pintu Rimba..
kami melanjutkan perjalan sebentar dan langsung masuk Pintu Rimba Mt. Seminung
Perjalanan (yang sebenarnya dimulai)
dengan bermodal pengalaman mendaki gunung yang memiliki ketinggian lebih dari gunung seminung membuat kami menyepelehkan Gunung Seminung. Diluar ekspektasi..
track yang kami lewati begitu sulitnya, kemiringan hampir 90 derajat, tanah yang gembur membuat langkah kami semakin sulit, lembabnya hawa hutan membuat kami kepayahan, kedua tangan inipun ikut merasakan basahnya tanah hutan untuk perpegangan.
Pohon mulai merenggang, atap langit yang bertaburan bintang sudah menyapa(yang menandakan puncak gunung semakin dekat) tapi kami belum menemukan dimana letak puncak Gunung Seminung ini. Tanaman Duri membuat sebagian tubuh kami lecet, namun tak terhiraukan lagi. Puncak.. Puncak.. hanya itu yang ada di pikiran... Sayup terdengar Bunyi Lonceng dari kejauhan.. lebih Kurang tujuh setengah jam (7,5 jam) tepat jam 9 malam kami tiba di PUNcak Gunung. Bunyi Lonceng yang kami dengar samar tadi adalah tanda bahwa kami sudah sampai di Puncak Gunung Seminung, yang dipasang oleh pendaki sebelum kami dan itu ternyata bukan lonceng melainkan tabung gas bekas dan piring seng yang digantung.
Perut kenyang..
Saatnya turun gunung..
packing lagi...
jam setengah sepuluh (09.30) kami turun gunung.
dan ketika mau turun kami di tampakkan dengan keindahan Danau Ranau,
Danau terbesar kedua di Sumatra.Menambah lagi kenikmatan kepada yang Ilahi untuk hadiahnya kali ini.
jam 10.00 kami turun gunung...
track yang kami lewati ketika malam kemarin terlihat jelas.
semak belukar dikanan kiri dan glondongan kayu menjadi teman kami selama perjalanan.
tanjakan yang curam berubah menjadi turunan yang tajam ..
jam 5 sore
minggu, 22 maret 2015
sebelum jam 10 pagi kami jalan ke palembang...
singgah makan siang di baturaja jam 1.30
jam 2.15 kami melanjutkan perjalanan.
sampai di Palembang jam 9 malam.
total sharecost di trip ini : Rp. 346.000.,- per orang.
*dalam sebuah tim, tidak penting kamu bisa/tidaknya naik-turun gunung.
tapi apa yang kamu bisa bagi ke dalam tim.
Gunung mengajarkan saya membuang jauh sifat individualisme.
Keterbukaan, Kebersamaan lah yang dijunjung disni.
Bukan rasa ingin dibilang Hebat atapun Mampu.
#salamLestari
dengan pengalaman sebelumnya bertamu di Puncak Gunung Dempo, Pagaralam, Sumatra Selatan.
Tanggal Merah adalah waktu yang saya nantikan di tiap bulannya untuk liburan.
Tepat di minggu ketiga pada bulan Maret, hari sabtu tanggal 21 (hari raya nyepi) membuat panggilan untuk mengunjungi Gunung semakin menguat..
Planning ini semakin bulat ketika bertemu dengan Yudi (@Yudhii_AG) yang merasakan panggilan yang sama, dan kami sepakat untuk berangkat berdua ke Gunung Dempo (untuk kesekian kalinya) jika memang teman-teman yang lain tidak ada mau ikut. Namun rencana berubah ketika hadir sosok wanita berkrudung yang memiliki jiwa berpetualang juga, teman ketika ke G. Dempo kemarin, sebut saja Una (@unashahab) namun ia belum siap jika bertemu kembali dengan track gunung dempo. Alhasil, yudi mencari (googling) gunung yang terdapat di wilayah Sumatra Selatan ini. Dapatlah Gunung SEMINUNG menjadi destinasi pilihan dengan semua anggota tim setuju untuk pergi kesana.
Bermodal pencarian hasil googling untuk lokasi dan keadaan di gunung, kami bertujuh
(adit-dika-eki-rian-yudi-tika-una)
siap berangkat .......
kami keluar dari kota Palembang sekitar jam 21.00...
Perjalan menuju Baturaja ditemani guyuran hujan deras membuat keadaan mobil avanza yang kami sewa (Rp 200.000/hari) semakin meriah. alunan music membuat perjalanan kami semakin memorable. Semakin malam, jalanan menjadi milik kami (sepi), perlahan diantara kami meninggalakan kami (
Eki sebagai nahkoda kami terus melanjutkan perjalanan dengan suasan hening didalam mobil, lama kelamaan rasa kantuk dirasakan eki. Pukul 1.30 pagi kami putuskan untuk menepi di Mushola, Baturaja untuk beristirahat. Selepas Sholat Subhu kami lanjutkan perjalanan menuju Muara Dua. tepat pukul 4.22 pagi kami lanjutkan perjalanan.
Jum'at, 20 Maret 2015
Tujuan kami ke Muara Dua, Kota Batu
untuk melapor Juru Kunci (kuncen) Gunung Seminung yang berketinggian 1881 mdpl. Memang belum jodoh, kami tidak bertemu dengan beliau ketika mampir di kediamannya, hanya bertemu dengan anaknya saja. Nama dan nomor Hp dari kami bertujuh dicatat untuk administratif sebelum mendaki. Kapal speed boat untuk kami menyebrang ke kaki gunung sudah siap. Rp. 150.000,- (Pulang-Pergi) kocek yang harus dikeluarkan.
(pemandangan selama perjalan di kapal)
Sebelum jam 1, kami sudah sampai di kaki Gunung Seminung dan langsung di suguhi dengan kolam air panas.
(
Masjidnyapun tak jauh dari sini, dengan mengikuti jalan setapak ke arah kiri pulau kita langsung menemukan, ternyata kami telat.. jammah sudah Sholat, memang tidak tertinggal 1 rakaat. kami langsung mengikuti imam. Lucunya adalah ketika sholat jumat selesai, jamaah masjid langsung meng-qadha sholat asyar. kami yang baru pertama kali sholat disana langsung memasang muka linglung. (masi inget muka2 yg cowok) dan kamipun sigap mengikuti imam, dengan tidak tau maksud sholat yg kedua ini, ada diantara kami berniat sholat jumat lagi dan lainnya. >.<
ternyata masyarakat sekitar mengqadha solat asyar dilantarkan pada sore hari mereka berkebun.
makan siang, packing tas..
Tepat Pukul 13.30 kami READY!!!
sebelumnya, belum ada yang pernah diantara kami mendaki gunung ini, hanya Tekat dan Niat yang membuat kami semangat.
perjalanan dilakukan benar-benar dari kaki gunung (kolam air panas)..
beberapa ruas jalan track di cor untuk sepeda motor berlalu-lalang mengangkut hasil kebun.
tapi untuk kami, jalanan cor membuat tapak kaki semakin berat untuk berjalan.
ditengah perjalanan kami beristirahat dengan pemandangan yang Luarbiasa indahnya.
matahari tepat diatas kepala, meski rindangnya pohon alpukat dan angsana selama 2 jam perjalan tetap membuat baju saya basah kuyup. dan kamipun sampai di Musholah.. tepat pukul 13.30
tempat yang kami kira post 1 sebelum masuk Pintu Rimba..
kami melanjutkan perjalan sebentar dan langsung masuk Pintu Rimba Mt. Seminung
dengan bermodal pengalaman mendaki gunung yang memiliki ketinggian lebih dari gunung seminung membuat kami menyepelehkan Gunung Seminung. Diluar ekspektasi..
track yang kami lewati begitu sulitnya, kemiringan hampir 90 derajat, tanah yang gembur membuat langkah kami semakin sulit, lembabnya hawa hutan membuat kami kepayahan, kedua tangan inipun ikut merasakan basahnya tanah hutan untuk perpegangan.
istirahat ditengah-tengah semak belukar
ditengah perjalanan Eki menemukan Giant ulat kaki seribu
besarnya bukan main, jarang atau bahkan tidak pernah saya menemukan ulat sebesar ini, yg berarti ekosistem hutan ini masi terjaga.
kemudian kami berjalan mengikuti jalan setapak,,
sayup2 terdengar adzan magrib berkumandang dari kaki gunung, dan kami masih di tengah hutan..
jendela malam mulai terbuka..
mimpi untuk melihat sunset di puncak gunung sirna, kepanikan dalam diri semakin menjadi-jadi.
"kapan sampai ?" kata itulah yang berulang-ulang terlontar dari bibir ini.
teman-teman dan saya pun kelelahan, bahkan ada yang tidak sanggup lagi, di Gunung inilah arti kebersamaan teruji dan batasanpun terlewati.
Semua saling menyemangati demi sampai ke puncak gunung...
Kak tika perpegangan tangan dengan Eki di tiga per empat jalan karna tidak kuatnya lagi utuk berjalan, lama perpegangan tangan diantara keduanya. (mungkin disini benih cinta mereka mulai bersemi)
Pohon mulai merenggang, atap langit yang bertaburan bintang sudah menyapa
Bagian Dika, Yudi, dan Rian mendirikan tenda. Puncak Gunung Semiung tidaklah luas. Hanya tiga tenda ukuran 5orang yang bisa didirikan dengan tempat berjauhan. Saya, eki, tika, una bagian masak-memasak, tenaga yg terkuras sebelumnya menjadikan kami hanya bisa membuat mie rebus dan scramble egg. dan bagi kami itu sudah sangat mengeyangkan. Hot coklat, nutrisari hangat menghangatkan tubuh kami malam itu.
Sempitnya lahan membuat kami mendirikan tenda ala kadarnya, yang penting kami bisa bermalam.
dua tenda sudah tertegak. 1 tenda diisi 5 orang (yudi, dika, rian, una, tika) dan tenda satunya lagi berisikan carrier, saya, dam eki. Tanah yang tidak rata alias miring dan dengan gundukkan yang cukup besar membuat tidur kami tak nyenyak. ..
Sabtu, 21 Maret 2015
Pagiku terbangun oleh suara teman-teman, "Bangun, Bangun.. Sunrisenya keren banget nih"..
cepat saya mengintip dari balik tenda.. dan WOW..
sungguh pemandangan yang Luar biasa.
matahari pagi menyambut pagiku dengan layar biru berpaduan orange.. sungguh indah sekali :)
matahari pagi menyambut pagiku dengan layar biru berpaduan orange.. sungguh indah sekali :)
kamipun tak ketinggalan untuk mengabadikan keindahan tersebut
Puas sudah menikmati indahnya pagi di Puncak Gunung Seminung.
Sarapan pagi ini bisa dibilang mewah..
ada spageti, nasi daging semur, sarden.. (sarapan paling mewah selama naek gunung)
Perut kenyang..
Saatnya turun gunung..
packing lagi...
jam setengah sepuluh (09.30) kami turun gunung.
dan ketika mau turun kami di tampakkan dengan keindahan Danau Ranau,
Danau terbesar kedua di Sumatra.Menambah lagi kenikmatan kepada yang Ilahi untuk hadiahnya kali ini.
jam 10.00 kami turun gunung...
track yang kami lewati ketika malam kemarin terlihat jelas.
semak belukar dikanan kiri dan glondongan kayu menjadi teman kami selama perjalanan.
tanjakan yang curam berubah menjadi turunan yang tajam ..
turunan, membuat langkah kami lebih cepat jika dibandingkan pada saat naik.
tapi permasalahan baru timbul, jempol kaki (saya dan yg lain) lecet. akibat gesekan dengan kulit dalam sepatu.
yang membuat langkah tidak nyaman dan membuat nyeri...
3,5 jam tepatnya jam 1,30 siang kami keluar pintu rimba,
istirahat kembali di mushola. jam 2 siang..
tapi permasalahan baru timbul, jempol kaki (saya dan yg lain) lecet. akibat gesekan dengan kulit dalam sepatu.
yang membuat langkah tidak nyaman dan membuat nyeri...
3,5 jam tepatnya jam 1,30 siang kami keluar pintu rimba,
istirahat kembali di mushola. jam 2 siang..
lanjut turun ke kaki gunung. dipertengahan jalan kami salah mengambil jalan.
alhasil jalan kami pergi berbeda dengan jalan kami pulang, kami masuk di tengah-tengah kebun kopi..
kaki semakin tidak kuat dan ingin cepat sampai.
di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk naik ojek, kebetulan ada gubuk warga yg kami lewati dan bersedia mengantarkan kami sampai kaki gunung dengan mengeluarkan kocek Rp 50.000.,- untuk tujuh orang.
jam 3.30 sore kami tiba di kaki gunung, langsung melepas lelah di kolam air panas.
semua laki-laki membersihkan diri sekaligus mengendurkan otot2 yang kencang.
Sehabis berendam, badan ini terasa Segar sekali. capek selama turun gunung hilang..
hanya rasa kantuk yang tertinggal.
jam 5 sore
Agar tidak malam dijalan, kami langsung lanjut ke Wisma pusri disebrang Mt. Seminung dengan membayar Rp 20.000.,- permobil kami masuk kekawasan tersebut.
izin dengan pihak security disana kami dibolehkan untuk Camping disan.
senja berubah menjadi malam..
malam yang indah untuk dikenang
hanya 1 malam kami ngecamp disini..
paginya kami langsung explore daerah danau ranau..
dari dermaga danau ranau, air terjun subiktuha (masuk Rp.1.000/org), sawah
minggu, 22 maret 2015
sebelum jam 10 pagi kami jalan ke palembang...
singgah makan siang di baturaja jam 1.30
jam 2.15 kami melanjutkan perjalanan.
sampai di Palembang jam 9 malam.
total sharecost di trip ini : Rp. 346.000.,- per orang.
*dalam sebuah tim, tidak penting kamu bisa/tidaknya naik-turun gunung.
tapi apa yang kamu bisa bagi ke dalam tim.
Gunung mengajarkan saya membuang jauh sifat individualisme.
Keterbukaan, Kebersamaan lah yang dijunjung disni.
Bukan rasa ingin dibilang Hebat atapun Mampu.
#salamLestari
.jpg)
.jpg)
.jpg)
wah, jadi kangen masa-masa itu..
ReplyDeletesuka banget sama kata-kata terakhirnya..
keren dit!
makasi kak.
ReplyDeletenext kita trip bareng lagi yak.. ^^
keren dit ... lanjutkan nulisnya ...
ReplyDelete